Kinan Story

Kartu Hutang

Bismillah.

Semingguan kemarin sempat ada dua orang mas-mas dari sebuah Bank Pemerintah meminta data kepegawaian kepada Kasubag Umum dan Kepegawaian di Kantorku.

Kupikir buat apa orang Bank kok minta data kepegawaian. Ternyata tak lain tak bukan untuk menawarkan kartu kredit kepada pegawai di kantor.

Yang bikin aku agak bingung, cara mereka menawarkan kartu kredit tuh agak nggak biasa. Mereka langsung memberikan application form untuk diisi tanpa ada prosesi tawar menawar apakah yang diberikan formulir tertarik untuk membuat kartu kredit. Qadarullah di kantorku sedang lumayan sibuk, beberapa orang udah nggak bertanya lagi itu formulir apa dan langsung main isi aja.

Minus beberapa orang yang ada diruanganku. Kami ditanyakan terlebih dahulu mau membuat kartu kredit atau tidak.

Yang menarik dari cerita ini, bukan disitu. Tapi isi pembicaraanku dengan salah seorang teman kantorku yang membuatku semakin yakin untuk tidak bermudah-mudahan dalam berhutang.

Kita sebut saja beliau ini dengan nama Ayuk (bahasa Bangka yang artinya Kakak perempuan) Fulannah.

Aku: Yuk nggak ikut ngisi formulir isiannya?

Ayuk Fulannah: Nggak mau. Buat apa? Itu kan kartu hutang. Belanja pakai kartu itu kan sama aja dengan kita berhutang dengan Bank. Kalo nggak ada uang mendingan nggak usah belanja daripada harus berhutang.

Kartu hutang

Jlebb. Bener juga pikirku. Kartu kredit ya sama aja kartu hutang.

Aku: Pusing ya, Yuk kalo ngutang? Hidup nggak tenang.

Ayuk Fulannah: Iyalah. Ngapain ngutang kalo memang nggak ada kebutuhan yang benar-benar mendesak. Itu pun kalo nggak ada uang dan terpaksa untuk pinjam, jauh lebih baik pinjam kepada orang yang kita kenal yang tidak mensyaratkan kelebihan uang dari pinjaman kita.

Aku mengangguk. Aku nggak tau apakah sudah paham betul soal hukum riba. Tapi prinsip hidupnya betul. Jangan sampai berhutang. Kalau sampai berhutang pun jangan sampai meminjam uang yang selain mencicil hutang, kita pun harus membayar bunga atas hutang itu.

Alhamdulillah. Aku selalu diajarkan oleh orang tua untuk tidak bermudah-mudahan dalam berhutang. Dari kecil orang tuaku selalu bilang kalau malu jika berhutang.

Kalo pengen jajan, nggak punya uang yaudah, nggak usah jajan. Tahan diri. Nggak perlu mengada-adakan sesuatu yang kita nggak punya dan nggak kita miliki. Kalo memang pengen banget sesuatu, mintalah ke orang tua. Kalo orang tua punya kelebihan uang, nggak mungkin nggak mengabulkan kemauan anaknya. Kalo orang tua nggak punya uang ya harus sabar. Mungkin belum rezeki untuk memiliki hal tersebut.

Dan memang terlihat kecenderungan zaman sekarang, kita dimudahkan banget dalam berhutang. Fasilitas kartu kredit bisa kita dapatkan secara mudah. Ketika jalan di Mall, akan ada Mbak dan Mas yang rajin menawarkan kita untuk mengisi aplikasi pembuatan kartu kredit ini.

Jangan dibahas dari segi agama dulu soal kartu kredit ini, ya. Karena dalam Islam sudah jelas kartu kredit = hutang riba. Hutang riba = dosa besar. Insyaa Allaah kita yang muslim udah tau ya seperti apa hukum riba.

Mungkin iya sekali dua kali kita akan merasa terbantu dengan adanya kartu kredit. Apalagi pada saat terdesak dan kita sedang nggak punya uang. Tapi dalam jangka panjang, terkadang manusia ini banyak lemahnya. Banyak godaannya dan banyak mau. Yang tadinya berprinsip kartu kredit hanya dipakai dalam keadaan urgent, malah menggantungkan semua kebutuhan (dan kemauan) hidupnya dari situ.

“Ah gampang! Nanti ada uang bisa diganti.”

Tanpa disadari malah terlilit hutang besar dari kartu kredit. Banyak kan kejadian kaya gini? Kalian pasti pernah punya teman atau saudara yang dikejar-kejar debt collector karena tidak mampu membayar hutangnya. Nauzubillahmindzalik.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berhutang, meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya hutang adalah kehinaan di siang hari kesengsaraan di malam hari, tinggalkanlah ia, niscaya martabat dan harga diri kalian akan selamat, dan masih tersisa kemuliaan bagi kalian di tengah- tengah manusia selama kalian hidup.” 

Hidup sederhana jauh lebih menenangkan. Membeli apa yang mampu kita beli, jauh lebih bikin melegakan.

Jangan malu terlihat sederhana atau bahkan miskin dibandingkan terlihat kaya tapi merupakan hasil dari hutang.

Mudah-mudahan Allaah jaga kita dari dosa besar yang dizaman sekarang ini bukan terlihat seperti dosa. Dan Allaah mudahkan juga yang sedang dalam kondisi berhutang untuk membayar hutangnya, insyaa Allaah.

Semoga tulisan ini bermanfaat and i’ll see you on my next post!

Love,

2 thoughts on “Kartu Hutang”

  1. Ya Allah baru tadi malem belanja online pakai aplikasi credit online karena memang mentok harus beli barangnya sementara baru ada uangnya pekan depan. Sepertinya ini teguran buat saya. Terimakasih Mbak atas pengingatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *