Kinan Story

A Letter To My Best Friend

Dear E,

Sekarang udah nggak zamannya lagi nulis surat. Jadi gue bikin postingan ini sebagai pengganti surat yang mungkin bisa lo baca disaat lo lagi down dan gue mungkin lagi nggak available buat lo kasih semangat. LDF – Long Distance Friendship memang kadang nggak ngenakin, yah. Bisa ketemu setahun sekali juga udah bersyukur banget.

Hati manusia ini memang lemah. Sering kali makin melemah ketika berhadapan dengan apa yang kita anggap karunia dan cobaan. Orang banyak yang mikir cobaan itu melulu yang sedih-sedih. Sedangkan yang bahagia dan bikin selalu ketawa itu adalah karunia.

Padahal,

Karunia dan cobaan itu sama. Keduanya adalah ujian.

Kalo lagi down, selalu ingat ayat ini. Masyaa Allaah.

Ada manusia yang sepanjang hidupnya selalu diuji dengan cobaan. Kesakitan, kesempitan, kesedihan dan kawan-kawannya. I know its hard. Sebagai manusia kita acapkali sok tau atas apa maksud Tuhan dibalik semua situasi yang tidak mengenakkan ini. Padahal gue yakin, Tuhan memberikan cobaan kepada hambaNya yang menurutNya bisa melewati itu semua dan bisa mengambil apa maksud dibalik itu semua.

What doesn’t kill you make you stronger and i’m sure, you’ll pass it! And you know, you always have my support.

Inget, pelaut yang hebat nggak dihasilkan oleh laut yang tenang. Justru pelaut yang hebat itu terbentuk dari laut yang ganas dan penuh badai. Dan sekarang badai itu sedang besar dan ganas.

Tapi ada juga manusia yang suka kita anggap beruntung. Inget nggak, dalam beberapa obrolan kita sering menghitung-hitung betapa banyak karunia yang Tuhan berikan kepada si A.

“Kelihatannya hidupnya bahagia. Dia cantik. Punya suami ganteng, mapan dan perhatian. Anak yang lucu dan sehat. Keluarga yang harmonis. Kapan susahnya coba ya dia?”

Lalu dengan congkaknya kita membandingkan dengan apa yang belum kita punya.

“Gue belum punya ini.”

“Gue belum punya itu.”

“Kita belum punya ini.”

“Kita belum punya itu.”

“Eh kenapa kita susah banget ya dapetin ini. Padahal si nganu bisa dapet tanpa usaha banyak.”

Congkak, ya? Iya congkak. Padahal gak punya apa-apa tapi kita congkak. Emang dasar manusia.

Tapi gue langsung sadar dan keinget beberapa nasehat yang gue tonton dari kajian kalo ternyata kebahagiaan, kesenangan hidup dan segala yang selama ini kita nilai karunia dan anugerah juga merupakan ujian hidup buat orang itu. Kadang Tuhan pengen ngetes, pas hambaNya ini dikasih kebahagiaan, masih bisa nggak sih inget sama Dia yang ngasih kebahagiaan? Masih inget nggak sama Dia yang memberikan kehidupan?

Apa jangan-jangan karena kita merasa dikelilingi kebahagiaan terus jadi lupa Tuhan yang udah ngasih kita kebahagiaan dan punya tuhan kecil. Siapa tuhan kecilnya? Ya orang-orang yang ada disekitar kita. Ya mereka-mereka yang kita anggap selalu bikin bahagia.

Tuhan kecil itu apa? Ya orang yang bisa bikin kita lupa sama Tuhan dan menomorduakan Tuhan. Bukankah Tuhan yang harusnya selalu jadi prioritas nomor satu didalam hidup kita.

Terus kita langsung bersyukur. Mungkin kalo diposisi orang yang dapat ujian dengan kebahagiaan, mungkin kita bakalan lupa.

Terus kita langsung mikir, kalo besok-besok lagi dikasih ujian berupa kebahagiaan, jangan sampe terlalu mengeksploitasi itu. Jangan sampe yang lagi dapet ujian berupa kesulitan malah jadi makin sulit melewati ujian itu karena merasa Tuhan lagi nggak sayang dia.

Kalo lagi sedih, sedih banget, bahagia, bahagia banget, kecewa, kecewa banget, nggak semua orang harus tau. Sometimes its better to keep everything only for us and our beloved family and best friends.

Padahal ya itu, ujian nggak melulu bikin air mata meleleh karena sedih kan. Bisa juga meleleh karena bahagia atau meleleh saking terpingkal-pingkalnya tertawa.

Dear E,

You know i love you.

PS. Nulis ini sampe meleleh-meleleh air mata :’)

1 thought on “A Letter To My Best Friend”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *