Kinan Story

Harga Dari Sebuah Komentar

Bismillah. Assalamu’alaykum ♥ 

Baru engeuh selama tahun 2019 ini aku sama sekali belum pernah update postingan blog padahal udah punya draft tulisan yang lumayan banyak yang belum di sempat publikasikan. Ada yang masih belum diedit fotonya, ada yang idenya mandeg ditengah jalan jadi belum bisa diselesaikan dan masalah lainnya yang sesungguhnya sepele tapi malas diselesaikan. Hehe. Maafkan blogger yang merangkap jadi ibu rumah tangga, PNS dan skincare reviewer ini, yah.

Untuk postingan ini, aku masih belum bisa share tentang skincare related. Tapi demi keberlangsungan blog ini, aku mau share dulu tentang hal yang beberapa minggu belakangan sering jadi topik yang sering banget aku pikirkan. Dan dia adalah:

KOMENTAR.

Di zaman milenial yang semuanya berbasis internet ini memang memudahkan banget untuk mendapatkan semua informasi. Informasi apapun itu tanpa terkecuali. Mulai dari agama, politik, resep masakan bahkan tentang skincare. Berapa banyak coba dari kita yang baru melek tentang double cleansing setelah rajin baca forum kecantikan, blog atau instagram para beauty guru. Zaman dahulu kala manalah ngerti double cleansing. Sabun cuci muka yang bikin kulit  kesat, kering ketarik itu kayanya yang paling bagus. Hahaha. Siapa yang kaya gini juga ayo tunjuk tangan!

Memang sudah sangat pesat kemajuan dunia teknologi internet sekarang. Bahkan meeting pun nggak perlu beneran meet yang face to face. Pake video call atay skype aja udah bisa “ketemu”. Bisa bayangin nggak zaman dulu orang yang mau meeting harus berkendara dulu. Naik sepeda, motor, mobil, kereta atau bahkan pesawat dalam sekian jam atau sekian hari.

Kita sekarang? Alhamdulillah, semua sangat dimudahkan. Mau cari apapun tinggal modal google aja. Dari yang nggak tau apa-apa bisa jadi tau segala. Masyaa Allaah.

Tapi sadar nggak sih, terkadang kemudahan ini membuat kita manja bahkan terbuai. Semuanya serba pengen mudah. Pokoknya nggak mau susah. Susah sedikit langsung ngeluh atau marah. Story of my life. *Hiks*

Berapa banyak diantara kita yang merasakan kemudahan ini bukannya membawa manfaat tapi justru yang tersisa hanyalah mudhorot (kerugian)?

Contoh: gampangnya kita berkomentar tentang hal-hal yang sebenarnya nggak perlu kita komentari. Atau gumaman dalam hati yang sepatutnya cukup disimpan untuk diri sendiri aja tapi justru kita ungkapkan ke khalayak ramai dan sampai dituliskan ke sosial media.

Beberapa kali nggak sengaja aku melihat di TV kasus Artis A melaporkan seseorang yang ngatain anaknya dengan kata-kata kasar di kolom komentar Instagram. Well, pas baca komentarnya memang bikin ngelus dada dan istighfar. Astaghfirullahaladzim. What happend with you, people? Salah apa sih si artis ini sampai kamu tega mengeluarkan kata-kata yang bahkan sangat nggak nyaman buat dibaca? Memang dia pernah menyakiti kamu?

Aku memposisikan diri jadi artis ini juga pasti bakalan kesel kok. Kenal kita aja enggak kok bisa setega itu sih ngeluarin kata-kata yang nggak sopan dan menyakitkan hati?

Di lain tempat, ada seseorang youtuber yang dibully habis-habisan di chanel youtubenya sendiri karena dia “pamer” barang mahal yang dia punya. Oke, aku ngerti disatu sisi kita memang nggak perlu memperlihatkan apa yang kita punya karena sangat rentan menimbulkan sifat negatif manusia: iri, dengki dan hasad. Tapi disisi lain, kita nggak punya hak untuk ngejudge bahwa orang ini sedang pamer. Standard mahal orang yang satu dengan yang lain bisa beda, kan?

Mungkin untuk kita yang penghasilannya rata-rata 5juta per bulan, beli tas yang harganya 500ribu aja sudah berat. Tapi untuk orang yang penghasilannya 100juta per bulan, beli tas seharga 500ribu mah murah bangettttttt.

Jadi, masih mau menyamaratakan standard yang kita miliki sama standard orang lain?

Apa karena kamu “bersembunyi” dibalik handphone dan internet sehingga berpikir bahwa segampang itu juga kamu bisa melarikan diri jerat hukum? Udah tau belum kalo sekarang sudah ada Undang-undang yang mengatur soal cyber bullying. Jadi kepolisian sudah bisa melacak dari orang-orang yang suka melakukan cyber bully meskipun kamu berkomentar dengan menggunakan akun bodong. Hukumannya? Kurungan penjara 12 bulan atau denda maksimal 2 MILYAR RUPIAH!

Selain hukuman dunia, ingatlah dosa. Ini yang hukumannya lebih menyeramkan dibanding kurungan 12 bulan dan denda 2 milyar itu. Nauzubillahmindzalik.

Mau nggak nanti di akhirat mencari-cari orang yang kita bully ini karena didunia kita belum sempat minta maaf? Coba bayangin harus mencarinya kaya apa sedangkan berapa banyak coba manusia yang ada dari zaman Nabi Adam ‘alayhi salam sampai akhir zaman kelak?

Islam adalah agama yang penuh adab. Termasuk dalam hal nasehat menasehati pun ada adabnya. Jika ada seseorang yang sikapnya kurang sesuai dengan standarmu bersikap dan sekiranya pengen kamu nasehati, nasehatilah jangan didepan orang banyak. Menyingkirkan sejenak ke tempat sepi, pergunakanlah kata-kata yang baik, jangan memposisikan diri sebagai orang yang paling benar kemudian berdoa semoga Allaah lembutkan hatinya untuk menerima nasehatmu.

Orang yang kamu kenal atau temui dari sosial media? Ya jangan menasehati dari kolom komentarnya karena bisa dibaca semua orang. Kan ada option direct message atau pesan pribadi jadi pesanmu hanya bisa dibaca oleh si empunya akun.

“Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang sendiri. Jangan menasihatiku di hadapan khayalak ramai.” (Imam Syafi’i rahimahullah)

Dan ada salah satu sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang bisa banget jadi pengingat buat kita kalo pengen ngeluarin kata-kata yang kemungkinan bisa menyakiti orang lain:

Sekian Kinan’s Story hari ini. Semoga bermanfaat and i’ll see you on my next post!

Love,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *